Najwa Shihab

NAJWA Shihab adalah puteri kedua Quraisy Shihab, menteri agama era kabinet pembangunan VII. Terlahir di Makasar, ia menyelesaikan kuliah di fakultas hukum Universitas Indonesia. Memulai karir sebagai reporter di RCTI, agustus 2000 dia bergabung dengan Metro TV.

Karir jurnalistiknya berjalan mulus dan meraih banyak penghargaan. Empat tahun setelah bergabung, Najwa memperoleh penghargaan sebagai jurnalis terbaik Metro TV. Ajang Panasonic Award pun sempat mendominasikan namanya sebagai pembaca berita terbaik. Pada tahun yang sama, bersama sejumlah wartawan dari berbagai negara, Najwa terpilih menjadi peserta Senior Journalist Seminar dan menjadi pembicara pada Konvensi Asian American Journalist Association.

Pencapaian terbaik ini, berkat laporannya soal tsunami di Aceh tahun 2004. Najwa tiba di Aceh pada hari-hari pertama bencana. Di antara tumpukan mayat dan reruntuhan bangunan, dia melaporkan secara live. Sangat emosional! Hal ini juga diceritakan oleh Najwa di buku “Mereka Bicara JK”. Meski demikian ia tidak kehilangan daya kritis dan ketajamannya, kendati orang yang dianggap paling bertanggung jawab atas penanganan pasca-bencana adalah Alwi Shihab, Menko Kesra waktu itu, yang tak lain adalah pamannya.

Liputan dan laporannya dinilai memberi andil bagi meluasnya kepedulian dan empati masyarakat luas terhadap tragedi kemanusiaan tersebut. PWI Pusat dan PWI Jaya mendapuk Najwa sebagai “Anchor/Reporter TV terbaik” tahun 2005.

Pembawa acara berita Metro Hari Ini, talk show Today’s Dialogue, program interaktif mingguan Padamu Negeri dan Save Our Nation ini seringkali menghiasi layar kaca dan menjadi sosok yang sangat familiar bagi pemirsa Metro TV.

Bimo Nugroho, komisioner KPI mengatakan, “Najwa banyak muncul, sering muncul di even penting tidak hanya bagi Metro TV, tapi juga dalam even nasional.” Peristiwa high-profile seperti bom Bali, kasus Akbar Tanjung, dan Tommy Soeharto, pernah dibawakannya secara langsung.

Profesionalisme Najwa diakui dengan kembali masuk nominasi pembaca berita terbaik Panasonic Award tahun 2007. Dia kalah oleh Rosiana Silalahi, presenter dan pemimpin redaksi Liputan 6 SCTV. Tidak hanya itu, di mancanegara ia juga masuk nominasi (5 besar) ajang yang lebih bergengsi di tingkat Asia yaitu Asian Television Award untuk kategori Best Current Affairs/Talkshow Presenter. Jika pada Panasonic Award pemenang dipilih dari jumlah sms terbanyak, maka penentuan pemenang pada Asian TV Award dilakukan oleh panel juri yang beranggotakan TV broadcaster senior dari berbagai negara di Asia. Najwa ternyata belum beruntung, walaupun demikian dia memperoleh penghargaan Highly Commended. Kategori ini sendiri dimenangi oleh Karan Thapar for Devil’s Advocate dari CNN-IBN Global Broadcast News Ltd dan Anjali Rao dari CNN-International sebagai runner-up.

“Nana mempunyai wawasan yang sangat luas,” kata Ignatius Haryanto, peneliti LPPS.

“Ia mempunyai kemampuan mengajukan pertanyaan yang sulit dengan baik. Satu hal lagi adalah ketika memotong pembicaraan narasumber. Orang bisa mengira dia memotong dengan sopan, sehingga tidak merasa dipotong.”

Ini ditunjukkannya saat memandu acara debat kandidat Gubernur DKI Jakarta. KPUD DKI Jakara menyelenggarakan debat yang mempertemukan pasangan Fauzi Bowo-Priyanto dan Adang Daradjatun-Dani Anwar. Najwa terpilih sebagai pemandu debat menyisihkan sejumlah pembawa acara yang diseleksi KPUD. Pemilihan gubernur sendiri dimenangi oleh Fauzi Bowo. Slogannya yang terkenal “serahkan pada ahlinya”. Apakah benar? Masyarakat Jakarta mungkin bisa merasakan sendiri saat melihat sistem transportasi massal busway yang masih kacau. Atau persoalan banjir yang masih menjadi masalah besar. Masyarakat sepertinya berhak bertanya “Mana nih, ahlinya?”

Selama pemilihan presiden tahun 2004, Najwa menjadi anchor “Pentas Kadidat”. Koalisi Media Indonesia untuk Pemilu Bersih memilih namanya sebagai “Best Television Election Talk Show”. Tidak lama setelah pelantikan, ia yang pertama kali mewawancarai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Rangkaian acara pemilihan legislatif dan presiden 2009 pun digawanginya hingga hampir semua tokoh politk nasional pernah ia wawancarai. Percakapan eksklusif dengan Mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dilakukannya setelah Ibrahim bebas dari penjara.

PENGAMAT MODE, Sonny Muklison mengatakan Najwa mempunyai penunjang yang menarik yaitu rambut. Ya, bagi wanita rambut adalah mahkota.

“Saya kira Nana akan memanjangkan rambutnya! Ternyata tidak, dia malah memotong pendek. Rambut potong pendek Nana tidak ada saingannya!” ungkap Sony.

“Satu hal yang saya suka dari Nana adalah matanya. Sangat bagus! Matanya berbicara.”

Saya tidak tahu pernyataan Sonny berhubungan dengan acara baru Metro TV, Mata Najwa. Acara ini dipandu oleh Najwa sendiri. Apakah Sonny sudah tahu sebelumnya akan ada acara tersebut sebelumnya, sehingga ketika dimintai pendapat oleh tim Metro TV tentang Najwa, dia mengungkapakan seperti itu.

Program terbaru bersama Najwa Shihab ini mengambil tagline “Menikmati Berita dengan Cara Berbeda”. Membedah berbagai peristiwa politik dan isu hangat dalam sepekan dengan ketajaman yang belum pernah ada sebelumnya. Metro TV mengklaim program ini cerdas, bertempo cepat, segar dan menghibur.

Pada episode perdana, Mata Najwa menghadirkan perbincangan mengenai sembilan peristiwa politik dan isu utama yang paling menarik perhatian di tahun 2009. Sutradara film dan pemerhati televisi, Garin Nugroho menjadi narasumber saat membedah soal televisi. Tema yang dibahas malam itu adalah dunia dalam kotak ajaib. Menyoroti laporan esklusif berbagai televisi nasional yang menyanjikan berita dengan sensasi yang berlebihan. Terkadang yang esensi sering dilupakan. Hingga berita TV sudah seperti sinetron saja. Metro TV juga tidak lepas dari hal ini.

“Wah lebih dari sinetron sekarang ini. Ya berita menjadi opera sabun terpanjang dan terhangat sekarang, dengan tokoh-tokoh yang lebih populer dibanding tokoh sinetron,” kata Garin.

Contohnya, saat penggerebekan teroris di Temanggung. Saat itu berita TV telah berani menyebut gembong teroris tersebut tewas di tangan densus 88 antiteror, padahal terbukti kemudian bukan. Informasi keliru yang disaksikan oleh jutaan pasang mata ini terjadi akibat laporan eksklusif dipertuhankan. Apalagi oleh salah satu TV berita nasional, dengan gaya pasti menayangkan liputan ini sebagai laporan ekskusif. Banyak kesalahan yang terjadi, dan yang paling fatal saat si reporter terlalu mengandalkan narasumber di lokasi, yaitu polisi. Kelemahannya si reporter tidak melakukan cek dan ricek lagi dengan benar. Berita dikesankan hanya sekedar urusan gosip tanpa data-data yang lengkap.

“Itu menurut saya tamparan yang luar biasa, secara umum bagi profesi jurnalistik, secara khusus bagi media televisi. Media melaporkan dengan, tanpa perasaan butuh untuk melakukan verikasi lebih jauh. Karena bagi saya banyak sekali hal yang tidak masuk akal dalam seluruh cerita polisi itu. Dan itu mestinya tugas media untuk mengejar lebih jauh,” kata pengamat media, Arya Gunawan.

Praktisi televisi, Don Bosco Selamun, yang juga menjadi tamu Najwa mengatakan penangkapan teroris di Temanggung sangat aneh. Berhari-hari diberitakan bahwa yang tertangkap adalah Noordin M. Top. Tetapi ternyata bukan Noordin.

“Mestinya sebuah peristiwa makin jauh jaraknya dari peristiwa, makin akurat berita itu disampaikan ke publik. Tetapi ini bukannya makin akurat, malah memastikan dan kesalahan itu terus menerus dikemukakan, dan itu tanpa ada ralat dan tanpa ada permintaan maaf.”

“Saya sependapat. Memang seharusnya kita meminta maaf, seharusnya televisi berhutang minta maaf ketika ternyata itu bukan Noordin M. Top,” sela Najwa.

“Integritas melaksanakan kode etik itu adalah bagian dari kemuliaan profesi jurnalis. Jadi harus minta maaf untuk hal yang betul-betul salah,” Don Bosco Selamun menyambung.

Mengenai penyebutan laporan eksklusif setiap liputan, Raditya Dika hadir di Mata Najwa menyatirkan diri sebagai reporter salah satu televisi khusus laporan eksklusif. Dika menjadi seorang reporter lapangan. Dia dituntut untuk kreatif, kritis dan berani untuk mencari berita. Tapi kenyataannya berbanding terbalik, Dika tak ubahnya seorang reporer yang ‘lebay’ dan terkesan konyol. Terlihat saat mewawancarai mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Adyaksa Dault.

“Apa itu pemuda, pak? Apa syarat jadi pemuda?” Pertanyaan ini menurut saya sebenarnya sangat mendasar atau substansial sekali. Tapi menjadi sangat lucu, ketika ditanyakan oleh reporter yang kaku, canggung, tidak punya percaya diri dan sepertinya tidak mempersiapkan wawancara dengan baik. Apalagi melihat Adyaksa yang jadi senewen hingga bertanya balik kepada si reporter, dia serius atau tidak. Saya tertawa terbahak-bahak menonton scene ini.

“Jadi ya syaratnya, kalau kamu umurnya 60 tahun bukan pemuda namanya,” jawab Adyaksa dengan tertawa.

“Tapi saya masih pemuda, pak?” tanya Dika lagi.

“Ya, jelaslah!”

Makin aneh saat Dika menanyakan orang yang salah bergaul yaitu pemuda suka dengan pemuda. Mantan menteri bingung. Dika mengulang pertanyaan lagi.

“Banyak sekali salah pergaulan di pemuda kita yang tidak baik, salah satunya pemuda yang suka dengan pemuda.”

“Homoseks maksudnya? Pemuda suka dengan pemuda? Saya jadi bingung ni. Ya artinya begini lah, hiduplah dengan kewajaran, hiduplah dengan tata karma yang baik, yang jelas” Adyaksa menyusun kata-kata dengan terpaksa.

“Pendapat anda tentang Andi Soraya, pak?”

Adyaksa terkejut. Saya jadi berpikir sendiri. Apa yang terjadi antara Adyaksa dengan Andi Soraya? Kok saya tidak pernah baca atau dengar tentang affair mereka berdua. Di tengah kegalauan itu, Dika si reporter meralat pertanyaannya.

“Eh maksud saya Andi Malarangeng, Menpora yang baru!”

“Ya dia meneruskan tugas saya lah!” Adyaksa lega. Kalimat penutup Dika sangat lucu dan membuat saya tak berhenti tertawa. Andi Soraya bukan Menpora!

Mata Najwa juga menyoroti soal acara reality show yang marak di televisi. Take Me/Him Out Indonesia yang disiarkan di Indosiar ini dibahas dengan santai. Ada pasangan yang masih berlanjut, ada juga yang kandas menjadi teman saja. Yang penting jadi terkenal, muncul di televisi dan kemungkinan mendapat pasangan hidup. Demikian kata salah seorang peserta.

Personil band Efek Rumah Kaca hadir sebagai tamu Najwa membahas nikmatnya menonton reality show.

“Intinya sih masyarakat Indonesia pengen tau urusan orang,” kata Cholil.

Adrian menambahkan, “Intinya adalah dramatis, seperti acara yang berisi konflik keluarga di suatu pernikahan. Tapi sampai bapak dan ibunya juga dihadirkan. Inilah yang menambah dramatisasi.”

“Kalo ga dramatis ga lolos casting! Yang lebih seru, misal ayah pacaran sama pacar anaknya,” sambung Akbar.

“Semakin abstrak akan semakin menarik begitu ya? Seharusya kalau memang begitu ya sudah judulnya sinetron atau film aja. Jangan dibungkus embel-embel reality show. Karena tak ada yang real di situ,” ungkap Najwa mengakhiri sesi ini.

Format acara juga menampilkan penampilan karakter satir para pejabat publik, politisi atau tokoh masyarakat lainnya. Setelah selebriti tertarik ke wilayah politik, sekarang berbalik politikus mencoba profesi baru di bidang entertainment. Tersebut tiga mantan anggota DPR. Ali Mochtar Ngabalin menjadi pembawa acara talk show. Pembawa acara Suara Anda dibawakan oleh Ferry Mursyidan Baldan dan Ade Daud Nasution. Ketiganya tampil natural walau tidak seluwes anchors pada biasanya. Scene ini hanya bercanda, bagian dari karakter satir tadi.

NAJWA SHIHAB punya acara talkshow sendiri? Ya, ia menyamai Alvin Adam dan Andy F. Noya. Sedikit memperlihatkan karakter Metro TV, mengambil sebagian nama presenternya untuk nama acaranya. Kick Andy, Just Alvin, lalu Mata Najwa yang episode perdananya ditayangkan bersamaan dengan hari ulang tahun Metro TV.