Menjadi manajer di tengah kekejaman industri sepakbola seperti di era gemerlapnya Premier League saat ini memang tak mudah. Faktor tuntutan meraih prestasi, ekspos media pada tim dan para presiden “labil” melipatgandakan level kesulitan sang nahkoda.
“Saya beruntung tidak memulai karir sebagai pelatih di masa ini karena manajemen adalah industri yang sangat kejam,” kata Sir Alex Ferguson di Daily Mail.
Sebelum berhasil mengumpulkan 36 trofi dalam 24 tahun bersama Manchester United, dirinya adalah pelatih yang memiliki kriteria lebih dari cukup untuk dipecat bila menggunakan standar penelian masa sekarang.
Fergie masuk Old Trafford November 1986. Di akhir musim, MU nangkring di posisi 11. Musim berikut, langsung menjadi runner-up di bawah Liverpool. Modal yang bagus untuk memulai musim selanjutnya. Optimisme tersebut muncul, namun kandas oleh kekecewaan. Sembilan laga awal musim tanpa meraih kemenangan. Akhirnya, The Red Devils hanya finish di papan tengah.
Hal yang sama terjadi di musim berikutnya atau 1989/1990. Bermodal pemain mahal seperti Paul Ince dan Gary Pallister, MU hanya berada di tepi jurang degradasi menjelang Natal. Fans mulai bersuara, minta Fergie dipecat. Bila ia mengalami hal itu sekarang, dapat dipastikan ia sudah menganggur.
Tapi chairman MU saat itu, Martin Edwards berusaha meyakinkan direksi untuk mempertahankan Fergie. Keyakinan Edwards terbayar di penghujung musim. Skuad MU memenangi Piala FA 1990. Ini gelar yang membuka gerbang kejayaan klub.
Di akhir musim Premier League 2010/2011, ayah tiga anak ini berhasil membawa MU meraih gelar juara liga ke-19, atau rekor terbanyak di negeri Ratu Elizabeth II saat ini. Unggul satu gelar atas Liverpool. Sebelumnya, rekor tersebut dipertahankan Liverpool sejak 1990 silam. Bagi Fergie, ini gelar ke-12 buat MU. Selanjutnya, ia mengoleksi 5 gelar FA Cup, 4 Piala Liga, 9 Community Shield, 2 gelar Liga Champions, 1 Piala Winner, 1 Piala Super, 1 Piala Intercontinental, dan 1 Piala Dunia Antar Klub FIFA.
Dalam ulasannya di tabloid Bola, Sapto Haryo Rajasa mengungkapkan, jika dikaitkan dengan total piala MU sejak berdiri 1878, lelaki yang gemar memasang taruhan di lintasan balap kuda ini mengontribusikan 63% dari 57 gelar United.
Sapto menilai, tidak hanya dari sisi prestasi. Menurutnya, Fergie juga spesial dari sudut pandang kestabilan yang dihadirkan lelaki bergelar OBE (Officer of the Order of the British Empire) dan CBE (Commander of the Order of the British Empire) tersebut di Theatre of Dream.
Fergie, lanjut Sapto, melakoni laga dengan puluhan bahkan ratusan pemain berbeda. Kombinasi antara bintang lapangan hijau yang sudah jadi, pemain semanjana tapi dengan jiwa petarung tinggi, serta legiun muda yang bersedia belajar serius untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.
Menggunakan kelebihan dalam menancapkan disiplin juga memegang peran penting. Di mata Fergie, tak ada ruang bagi pemain yang menonjolkan sisi keartisan alih-alih determinasi tinggi untuk membela panji klub.
Sapto mengutip pernyataan Harry Redknapp, pelatih Tottenham Hotspur di Times. Menurut Redknapp, Fergie masih mengantongi antusiasme memimpin United yang sama seperti saat baru memulai karir di United.
“Dia hidup untuk permainan ini, mengetahui sepakbola dari luar dalam, hafal setiap detail mengenai apa yang dilakukan setiap pemainnya. Dengan hasil bagus yang masih ditelurkannya, tak ada alasan bagi Fergie untuk pensiun dalam waktu dekat,” kata Redknapp.
Persentase fantastis Fergie masih mungkin bergerak naik jika hasil Final Champion Sabtu (28/5), melawan Barcelona dimenangi Rooney dan kawan-kawan. Dua musim lalu, pasukan Fergie ditaklukkan armada Catalan di Roma. Bagi Fergie ini adalah final keempatnya. Tiga kali berlaga di final, Fergie membawa anak asuhnya memenangi dua partai puncak.
Gelar pertama United di Eropa diraih tahun 1968. Di bawah asuhan Sir Matt Busby, United menang 4-1 atas Benfica. Bobby Charlton mencetak gol di awal babak kedua. Benfica menyamakan kedudukan menit 75 lewat Graca dan memaksakan perpanjangan waktu. George Best membuat skor 2-1 menit 93. Semenit kemudian, Brian Kidd mencetak gol ketiga United. Gol kedua Charlton menit 99 menutup kemenangan MU. Keberhasilan ini tak hanya menutup era Busby di Old Trafford, namun juga memupus kisah indah United di pentas antarklub terwahid benua biru tersebut.
Pelatih datang dan pergi, tapi hingga 1998/1999 tak ada lagi penampilan di partai puncak. Aktor suksesnya, siapa lagi kalau bukan Alex Ferguson. Final 1999 yang berlangsung di Camp Nou (Barcelona) melawan Bayer Munchen jelas laga yang tidak terlupakan. Inilah comeback dari segala comeback. Tendangan bebas Mario Basler membuka skor pada menit keenam. Munchen bisa merasakan trofi LC di tangan mereka saat laga memasuki menit ke-90.
Ketika injury time memasuki menit pertama, bola hasil sepak pojok David Beckham ditempatkan ke tengah oleh Dwight Yorke. Thorsten Fink menyapu bola, tapi tidak cukup kuat dan jatuh ke kaki Ryan Giggs. Tembakan lemah Giggs diteruskan Sheringham masuk ke gawang Munchen.
Dua menit kemudian, lagi corner Beckham ditanduk Sheringham ke bawah dan diteruskan Solskjaer yang berada di tempat yang tepat. Tiga menit yang membalik keadaan berlangsung cepat. MU meraih treble winner setelah sebelumnya menjuarai Premier League dan FA Cup. Ini juga partai terakhir untuk kiper flamboyan MU, Peter Schmeichel.
Musim 2007/2008 MU kembali berlaga di Final LC. Kali ini lawannya sesama klub Inggris, Chelsea. Final yang berlangsung di Luzhniki (Moscow), MU unggul lebih dulu pada pertengahan babak pertama. Top scorer turnamen, Cristiano Ronaldo mencetak gol lewat header memanfaatkan crossing Wes Brown. Chelsea menyamakan kedudukan lewat Frank Lampard.
Setelah 120 menit laga, kedudukan imbang tak berubah. Laga dilanjutkan dengan duel adu penalti. Lapangan becek karena hujan sepanjang laga memainkan peran di adu penalti. Terry penendang kelima Chelsea, terpeleset saat hendak mengeksekusi bola. United menang tendangan penalti Anelka ditahan Van der Sar.
Setahun berikutnya, MU masuk final lagi. Barcelona menyingkirkan ambisi MU mempertahankan titel Liga Champion dengan 2-0. Anak asuh Pep Guardiola berhasil membuat skuad MU tidak berkutik di semua lini di Olimpico, Roma, hari itu. Gol Eto’o dan Messi memupus harapan.
Dan, kali ini Barcelona juga yang menjadi tokoh utama dalam memutus persembahan gelar Fergie buat MU di Eropa.
“Memilih siapa yang bakal turun di final sangat bersentuhan dengan sisi humanisme sepakbola. Mereka telah bekerja keras sepanjang musim. Tentu memilih siapa yang akan tampil tak akan mudah. Sayangnya, orang yang harus memberi tahu kabar itu adalah saya. Tapi demi kejayaan tim, saya rasa pemain pasti mengerti. Semoga saya memilih sosok yang tepat,” kata Ferguson.
“Kami telah menghadapi Barcelona tiga kali dan selalu ada solusi untuk mengatasi pemain bagus. Semoga kami sudah menemukan jawaban untuk Lionel Messi,” sambungnya.
Messi memang menjadi momok bagi MU. Setelah kedudukan 1-1 di babak pertama, ia mencetak gol kedua Barca dari luar kotak penalti. Tak lama ditambah gol David Villa. MU hanya sempat membalas di babak pertama lewat Rooney, untuk menyamakan kedudukan yang dibuat Pedro.
Namun begitu, El Barca menemukan nemesis (lawan yang sangat kuat dan biasanya memiliki karakter bertentangan). Pelatih Barca, Pep Guardiola mengatakan seperti dilansir situs resmi UEFA. “Manchester United sangat kuat. Mereka adalah tim yang bekerja keras. Sangat sulit melukai mereka. Kami harus berhati-hati.”
Pep dapat lega dengan kemenangan ini sekarang. Tapi Fergie tetap istimewa.
Diolah dari berbagai bahan.



Leave a comment
Comments feed for this article